REPORTASE

Kemen PPPA Belajar di Luar Kelas Serentak di 15.588 Sekolah

kuntadiKemen PPPA Belajar di Luar Kelas Serentak di 15.588 Sekolah
Kemen PPPA bekerjasama dengan Kemendikbud, Kemenkes dan Kementerian Agama menggelar outdoor class day (OCD) serentak 33 provinsi dan 15.588 sekolah. FOTO : iNews.tv/Kuntadi

KULONPROGO – Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ( Kemen PPPA), bekerjasama dengan Kemendikbud, Kemenkes dan Kementerian Agama, menggelar outdoor class day (OCD) serentak 33 provinsi dan 15.588 sekolah, Kamis (7/11/2019). Belajar di luar ruang kelas ini, dilakukan agar anak-anak tidak bosan dalam belajar untuk mewujudkan sekolah ramah anak.

Di Kulonprogo kegiatan OCD dipusatkan di MAN 2 Wates, dan dihadiri oleh Asisten deputi Pemenuhan Hak Sipil dan Partisipasi Anak, Kemen PPPA Lies Rosdianty. Menurutnya belajar diluar kelas ini agar anak-anak bahagia. Cara ini untuk menghindari kebosanan anak dalam belajar agar kualitas pendidikan semakin baik.

“Sebenarnya ini sudah dicanangkan sejak 2017 lalu, dan hari ini serentak di 134 negara dan 33 provinsi di Indonesia yang melaksanakan belajar di luar kelas,”jelas Lies.

Program ini, harus dilaksanakan rutin di setiap sekolah. Mereka bisa melakukan sekali atau dua kali dalam setiap bulannya. Setidaknya ada 10 point yang ingin ditanamkan kepada siswa dari kegiatan ini. Mulai dari pendidikan karakter, kesehatan, iman dan taqwa, gemar membaca, adaptasi perubahan iklim, hingga peduli dan cinta lingkungan, melestarikan budaya cinta tanah air dan sadar bencana serta mau dan mendukung sekolah ramah anak.

“Program ini berkaitan dengan sekolah ramah anak untuk mewujudkan kabupaten ramah, menuju Indonesia Layak Anak di 2030,”jelasnya.

Kabid Pendidikan Madrasah, Kementerian Agama DIY, Muntholib, mengatakan program ini sejalan dengan sinergitas di Kemenag. Dimana mereka terus menggiatkan pendidikan agar lebih menyenangkan. “Kegiatan ini akan membangkitkan anak-anak lebih giat belajar,” jelasnya.

Kepala MAN 2 Wates, Anita Isdarmini mengaku bangga skeolahnya dipilih untuk kegiatan pembelajaran luar kelas. Program ini sudah dirintis dan dilaksanakan sejak 2016 sebagai rintisan madrasah ramah anak. Dalam kegiatannya pendidikan karakter diberikan, dengan mengajak anak membawa bekal. Bahkan sekolah ini juga menyandang sekolah adiwiyata (peduli lingkungan) yang mampu mengelola sampah.

“Kita ingin menggali potensi anak, agar mereka nyamanselama belajar dan mengembangkan diri,”jelas Anita.

Pendidikan di luar kelas ini dilaksanakan dengan gerakan cuci tangan, membaca, sarapan bersama, senam, simulasi bencana, hingga gerakan membaca. Para siswa juga diajak untuk mengelola sampah dan menjaga lingkungan.

(nun)

Sumber: sindonews.com

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close