REPORTASE

Lafida Wanua Nusantara Gelar Diskusi dan Literasi Ibu di Galur…

Priyo SetyawanLafida Wanua Nusantara Gelar Diskusi dan Literasi Ibu di Galur Kulonprogo
Kegiatan diskusi LimpapehAcitya, Kamis (28/11/2019). Foto/Dok Lafida Wanua Nusantara

YOGYAKARTA – Lafida Wanua Nusantara pada November 2019 mengelar dua kegiatan. Pertama, diskusi rutin bulanan LimpapahAcitya, Kamis (28/11/2019) dan kedua, gerakan literasi ibu-ibu di Galur, Kulonprogo, Sabtu (30/11/2019).

Inisiator diskusi LimpapehAcitya, Elsa Putri E Syafril mengatakan, diskusi limpapehAcditya adalah kegiatan untuk membuka ruang dialog tentang berbagai pengetahuan, baik yang bersifat teoretis maupun aplikatif. “Itulah ide awal diskusi limpapehAcditya, untuk memberi ruang bagi perkembangan ilmu pengetahuan. kata Elsa.

Seri diskusi ini akan dilaksanakan secara rutin setiap bulan dengan mengangkat tema yang mencirikan latar sosial, budaya, dan sejarah yang terjadi pada bulan tersebut serta isu-isu yang sedang hangat di Tanah Air. Untuk tema diskusi pada bulan ini sesuai dengan keberadaan Hari Pahlawan, yaitu membahas hal yang berkaitan dengan kepahlawan.

“Diskusi ini dipantik mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas PGRI Yogyakarta, Agnuardhi Hernu Wicaksono dengan judul Pahlawan yang Hanya Tinggal Cerita,” katanya.

Lafida Wanua Nusantara Gelar Diskusi dan Literasi Ibu di Galur Kulonprogo

Sedangkan Gerakan Literasi Ibu-Ibu dilaksanakan di rumah warga Derpoyudan, Tirtorahayu, Galur, Kulonprogo, Rini Dwi Hastuti. Kegiatan ini merupakan ide aplikatif dari kelompok diskusi LimpapehAcitya selepas kegiatan diskusi di Bulan Bahasa (Oktober lalu) yang mengangkat tema berkaitan dengan bahasa, perempuan, dan kreativitas yang dipantik oleh Elsa. Kegiatan gerakan literasi tersebut bertemakan “Ibu Sang Mata Air Pengetahuan”.

Buku-buku yang diserahkan berasal dari sumbangan donatur yang peduli dengan literasi. Gerakan literasi ini untuk menggugah pemahaman perempuan, khususnya para ibu tentang pengetahuan dan posisi ibu sebagai sumber pertama pengetahuan bagi anak-anak di rumah. Selain itu, gerakan ini juga menarik minat perempuan, utamanya kaum ibu untuk mencintai buku dan aktivitas membaca.

Dengan demikian, hal tersebut menjadi contoh langsung bagi anak-anak untuk dekat dengan buku dan kegiatan membaca. Kegiatan membaca antara Ibu dan anak dapat menumbuhkan kedekatan emosional dan kebiasaan berdiskusi di rumah. Hal ini tentu dapat meluaskan pengetahuan, kreativitas, dan kemampuan berbicara anak.

Proses berkreasi tidak terlepas dari kemampuan membaca dan memaknai segala sesuatu yang ada, baik secara tersirat maupun tersurat (terlihat maupun abstrak). Itu sebabnya, daya kreasi dapat muncul secara awal dari proses membaca buku secara harfiah yang mampu diaplikasikan dalam bentuk karya pikir maupun fisik.

“Semua itu tidak terlepas dari keberadaan bahasa. Bahasa, dalam konteks kehadirannya berawal dari proses pemerolehannya tidak bisa dilepaskan dari kehadiran seorang ibu,” katanya.

Itu sebabnya sebagian linguis menyebut bahasa pertama sebagai mother language, meskipun sebagian yang lain menyebutkan bahwa pemerolehan bahasa pertama tidak selalu dari ibu, tetapi dari orang-orang terdekat yang dominan adalah perempuan.

“Semoga ke depan, kegiatan diskusi dan literasi ibu-ibu tersebut dapat terus diapresiasi dan dilaksanakan untuk suatu perubahan kecil. Perubahan kecil tidak selalu dari gerakan besar, tetapi melalui langkah sederhana yang konsisten,” kata Elsa.

(amm)

Sumber: sindonews.com

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close